Assalamu’alaikum...
Kali ini gue bakal share pengalaman ngebolang gue ke Yangon, mantan ibu kota Myanmar. Kota yang menurut beberapa orang kurang menarik jika dikunjungi (mungkin karena mereka belum pernah menginjakkan kaki ke Yangon kali ya jadi bisa beranggapan seperti itu hoho). So far sih gue nyaman-nyaman aja selama trip di Yangon :D
Okelah Yangon.... Trip Yangon ini sebenarnya trip yang gak sengaja gue buat, karena pada saat itu (pertengahan 2015) gue lagi benar-benar pengen ke Philipine untuk merasakan eksotisme pantai-pantai yang terkenal se-Asia Tenggara itu. Tapi gak tau kenapa, pas gue buka facebook, banyak member grup backpacker yang membahas tentang Yangon, saking penasarannya tiap hari googling mengenai Yangon. Tiap hari gue baca blog-blog orang Indonesia yang pernah ke Yangon, semakin sering baca isi blognya semakin tertarik gue ama Yangon wkwkw (blogger nya sukses nyebar racun) .
Hasil dari baca-baca blog, sedikit demi sedikit ada gambaran tentang kota Yangon. Pada saat itu yang ada di otak gue tentang Yangon adalah kota yang punya pagoda-pagoda indah, tempatnya sepi, orangnya baik-baik, penduduknya pakai bedak-bedakan di pipi, bebas Visa bagi WNI, pria nya pada pakai sarung bla bla bla deh. Dan ternyata Yangon itu.............
1. Bandara Yangon
Bandara Yangon termasuk bandara yang kecil sih menurut gue untuk ukuran bandara internasional. Dengan kecilnya bandara ini, gue jadi gak nyasar-nyasar dah disini hohoho. Tapi karena kecilnya bandara ini gue juga merasa kesusahan buat cari pengisi perut, karena di bandara ini hanya ada kedai kopi ala-ala singapore gitu dan sebelahnya ada toko roti dan cake (gak ada KFC dan sejenisnya disini).
Menurut gue, jumlah penerbangan dari bandara Yangon ini juga terbilang masih sedikit dibanding dengan penerbangan di KLIA2 ataupun CGK.
2. Dollar (USD) dan Kyats (MMK)
Hanya dua mata uang ini yang digunakan untuk bertransaksi di Yangon, sedangkan mata uang lain gak laku huhuhu. That’s mean, sebanyak apa pun kalian punya rupiah, ringgit, atau mata uang selain dua diatas kalian gak bakal bisa beli apa pun disana. Tapi tenang, kalian bisa menukar ringgit kalian ke valas/money changer yang ada di bandara. (tidak dengan Rupiah huhu mata uang kita dinilai kecil juga di Yangon *sad* ).
Tips juga sih, sebaiknya kalo jalan ke Yangon, kyats nya harus di habiskan. Karena kyats tidak laku ditukar di Malaysia dan di Indonesia (based on my experience).
| Mata Uang Myanmar (MMK) |
3. Bebas Visa bagi WNI yang ke Yangon selama 15 hari
Nah ini nih yang bikin gue deg-deg serrr selama disana, gue takut info yang disampaikan di beberapa blog tidak valid, sampe gue harus print peraturan Visa bagi Warga Negara Asing yang mengunjungi Yangon dari website resmi pemerintah Yangon.
4. Penduduk Yangon
• Bedak Basah (Tanakha)
Iya benar, rata-rata penduduk Yangon menggunakan bedak-bedakan (mereka menyebutnya Tanakha). Gue pernah menanyakan fungsi dari tanakha tersebut ke beberapa penduduk setempat, tapi jawabannya nihil wkwkw mereka tidak mempunyai jawaban spesifik dari pertanyaan gue tersebut, sehingga gue dapat menyimpulkan bahwa mereka menggunakan tanakha sebagai bentuk ketaatan dalam berbudaya. #CMIIW
• Penduduk pria mengenakan sarung (Longyi : Bahasa Myanmar)
Lain Cilegon lain Yangon, kalo di Cilegon lazimya sarung dipake buat solat, lah kalo di Yangon sarung malah dipake buat aktivitas sehari-hari hehee. Kata driver gue sih enakan pake longyi daripada pake celana, berasa adem katanya wkwkw iya bener sih sebenarnya. Gue pun ikutan pakai sarung pas di Yangon, sarung gue dari rumah, pas driver gue liat sarung punya gue malah dikira sarung dari India. Howalah soktau tuh driver wkwkw wong sarung gue made in Pekalongan – Indonesia :P
• Nginang atau Nyirih
Nah info satu ini yang gue belum temukan di blog-blog tentang Yangon. Ternyata penduduk Yangon suka nyirih juga. Kalo di Indonesia kan lazimnya nyirih buat nenek-nenek, kalo disini gue liat malah banyak kaum adamnya yang banyak nyirih (yang gue lihat sih disini yang nyirih bukan orang tua aja, remaja yang berumur 17an tahun juga sudah mulai nyirih). Jangan kaget juga kalo di Yangon, warna aspal/jalan berubah jadi orange kemerahan dengan bau khas Yangon :)
5. Transportasi Yangon
Yang jelas di Yangon jarang atau bahkan tidak ada yang berkendara menggunakan motor, lalu lalang jalanan dipenuhi dengan taksi, mobil pribadi, sepeda dan bus-bus besar.
Keanehan pertama yang gue rasakan di Yangon adalah saat berkendara dengan taksi, jika di Indonesia posisi duduk driver di KANAN dan menggunakan jalur KIRI saat berkendara, di Yangon posisi duduk driver KANAN TAPI menggunakan jalur KANAN untuk berkendara (itu untuk taksi). Gue perhatikan juga tuh kendaraan-kendaraan di jalanan, ternyata ada beberapa kendaraan juga yang menggunakan posisi duduk driver di KIRI dengan menggunakan jalur KANAN untuk berkendara (kasusnya kebanyakan transportasi jenis truk dan bus besar). Oh iya tarif taksi di Yangon gak menggunakan argo ya, jadi kita harus melakukan tawar menawar dulu sebelum kita memakai jasa taksinya. Untuk pengalaman gue kemarin sih gue kena MMK600 untuk 2 hari, gue rasa sih itu kemahalan tapi apa boleh buat gue bukan ibu-ibu yang pandai menawar huhuhu.
6. Burung Gagak
Burung yang satu ini selalu eksis di Yangon (paling banyak ditemukan di sekitaran pagoda, burung ini juga sering main-main di kabel listrik/lampu lalu lintas di tengah jalanan kota Yangon. Gak tau mitos apa yang berkembang di sana, yang jelas burung gagak kalo di kampung gue menjadi salah satu burung yang ‘di takuti’ penduduk karena konon keberadaan burung ini selalu mengabarkan hal buruk yang akan terjadi di sekeliling
7. Makanan
Aduuuuuh gue sebenarnya males bahas makanan, karena menurut beberapa blog yang gue baca, di Yangon tuh ada sup, bubur, ramen dan lain-lainnya yang enak-enak plus halal, dan ternyata setelah gue melakukan ekspedisi dan riset di sekitar hostel tempat gue nginep (kalo gak salah di 49th street Yangon) hasilnya mengecewakan. Iya emang benar banyak ramen, bubur, sup dan lain-lainnya yang berkuah, terlihat menggiurkan untuk dimakan akan tetapi komposisinya yang gak mungkin bisa gue makan. Dan rencana makan-makan enak di Yangon pun gagal total :(
Gue hanya bisa memandangi makanan-makanan tersebut tanpa memakannya hiks hiks hiks. Alhasil di hari pertama gue di Yangon hanya makan mie instan yang gue bawa dari rumah + roti yang gue dapet dari hostel, hari ke-2 dan ke-3 gue makan di tempat makan India muslim gitu (kalo di Indonesia semacam warung nasi padang).
Posting Komentar